Ini Akibatnya Jika Kita Terlalu Sering Mengecek Smartphone

Dalam sehari, rata-rata orang mengecek smartphone mereka lebih dari 60 kali dengan total waktu sekitar 220 menit. Dalam satu jam, mereka bisa mengecek tiga hingga empat kali selama 3 sampai 4 menit setiap kalinya. Studi lain menyebutkan, orang-orang secara rutin memeriksa telepon mereka setiap 15 menit sekali atau bahkan kurang. seringkali mereka melakukannya meskipun tanpa ada notifikasi, hanya memeriksa saja, lalu menguncinya kembali.

Pernahkah ketika suatu saat kalian cek smartphone, nggak ada notofikasi disana, lalu kalian merasa lega? Perasaan ini mungkin muncul lantaran tidak ada informasi yang kalian lewatkan, tidak ada yang bersenang-senang di media sosial tanpa dirimu, dan fakta bahwa kamulah yang pertama memberikan respon seperti like dan komentar. Dan pernahkah kamu merasa cemas ketika orang lain memegang hp mu, hingga hp itu dikembalikan?

Kecenderungan sering mengecek media sosial ternyata pertanda beberapa masalah kejiwaan lho. Ada dua proses yang dapat menjelaskan apa yang sebenarnya kamu rasakan ketika terlalu sering mengecek media sosialmu. Pertama, ketika kalian melakukan aktivitas itu (mengecek media sosial) kemudian muncul perasaan senang sehingga ingin melakukannya lagi dan lagi, hal itu disebut adiksi. Namun, jika kalian mengecek media sosial dan merasa lega bahwa kalian tidak ketinggalan apapun, serta menjadi yang pertama dalam memberikan komentar atau like, kemungkinan yang kamu lakukan itu adalah obsesi. Tidak seperti adiksi yang merupakan hasil kerja otak untuk menciptakan rasa senang, obsesi terbentuk ketika aktivitas yang kamu lakukan adalah untuk mengurangi rasa cemasmu. Obsesi ini bisa menjadi masalah kejiwaan ketika kalian tak bisa mengontrolnya hingga mengganggu kehidupan.

Selain itu, kita seringkali mengecek smartphone ketika berada di ruang publik.  Bisa jadi yang kita lakukan adalah untuk mengatasi bosan, seperti ketika menunggu antrian. Namun, ketika kita melakukannya sebagai tameng untuk menghindari berinteraksi dengan orang lain, mungkin kita memiliki sedikit fobia sosial, yaitu salah satu jenis gangguan kecemasan yang bekaitan dengan interaksi sosial.

Nah, bagaimana? Kalian termasuk kelompok yang mana? Karena adiksi, obsesi, atau menghindari interaksi? Apapun itu, ada baiknya kalian mengurangi frekuensi mengambil smartphone dan intensitas mengecek media sosialmu. Mulailah untuk ngobrol dengan orang lain di sekitarmu, menikmati pemandangan hijau alih-alih sibuk memotretnya, dan melakukan aktivitas nyata yang lebih bermanfaat. Dijamin, aktivitas itu akan berdampak sangat bagus untuk kesehatan dan kesejahteraanmu.