Gelar Demi Gelar Bulu Tangkis Indonesia Dari Gonta-ganti Pasangan

Gaung kejayaan bulu tangkis Indonesia tidak pernah surut. Bagi para penggemar olahraga, khususnya Bulu Tangkis, memang sudah banyak yang tahu bahwa Indonesia selalu punya cara untuk melahirkan pemain-pemain berkelas. Tidak hanya bertaraf nasional tetapi juga bertaraf internasional. Kemampuan-kemapuannya pun juga selalu di atas rata-rata. Selain itu, sumbangsih Indonesia dalam rangking bulu tangkis dunia selalu berada di lima besar dari keseluruhan sektor. Kemampuan yang terus berkembang dengan kualitas yang terus membaik ini tidak lepas dari sosok-sosok pemain yang mampu bermain di berbagai sektor. Multi posisi. Begitu menyebutnya di sepak bola. Karena banyak yang multi posisi dan kualitas yang mumpuni, banyak dari mereka yang mampu memenangkan beberapa kejuaraan walaupun bermain di sektor yang berbeda. Hebat!

 

Lilyana Natsir

Kalo berbicara tentang Lilyana Natsir tidak akan ada habisnya. “Butet” panggilan akrabnya, bisa dibilang sebagai salah satu pemain bulu tangkis profesional Indonesia yang sudah lengkap gelarnya. Mulai dari kejuaraan dunia, kejuaraan asia, sampai kejuaraan lokal sudah pernah dicicipi podiumnya. Salah satu kehebatan dari permainannya adalah bahwa dia selalu bisa bermain dengan baik walaupun dengan pasangan yang berbeda-beda. Sama deh kayak kamu, yang sukanya gonta-ganti pasangan. Eh, ga ada yang jadi deng. Hih! Diawali sebagai tandem Tantowi Ahmad, Butet langsung tancap gas. Emas olimpiade Rio de Janeiro tahun lalu menjadi puncaknya. Sebelumnya, Nova Widianto sudah pernah merasakan kualitas dari seorang Butet. Gelar super series sudah direbut sebanyak lima kali. Kejuaraan dunia sebanya dua kali. Dan medali perak olimpiade Beijing behasil dibawa pulang olehnya. Tidak hanya di ganda campuran, kepiawaiannya juga telah terbukti di ganda putri. Bertandem dengan Vita Marissa, China Masters 2007 dan Indonesia Open 2008 berhasil direngkuhnya. Belum lagi runner-up BWF series 2008. Lengkap sudah!

 

Christian Hadinata

Kecintaan Christian Hadinata pada bulu tangkis tidak pernah pudar, meskipun sudah berjalan lebih dari 35 tahun. Di awal karirnya, pemain ini telah berhasil menjuarai berbagai kejuaraan dari sektor tunggal putra. Walaupun begitu, dia tidak pernah sekalipun menurunkan kualitasnya meskipun harus bermain dengan berpasangan. Hal ini dibuktikannya dengan pencapaian-pencapaiannya yang begitu gemilang di sektor yang lain. Di mulai pada era 70-an, dia berhasil memenangkan kejuaraan dunia dengan pasangan yang berbeda. Dua All England bersama Ade Chandra. Sedangkan kejuaraan dunia yang lain bersama Imelda Wiguno. Multi-posisi. Multi-kualitas. Dekade setelahnya, di medio 80-an, tepatnya di tahun 85-an, dia berhasil meraih dua gelar bergengsi juga dengan dua tandem yang berbeda. Ivana Lee berhasil merebut satu kampiun di kejuaraan dunia bersamanya. Beberapa saat setelahnya Imelda Wiguno kembali meraih emas di ajang SEA Games sebagai pasangannya. Kemampuan untuk dapat terus memepertahankan kualitasnya di berbagai sektor ini lah yang kemudian menjadikannya sebagai pelatih timnas bulu tangkis, terutama di sektor ganda. Rexy Mainaki dan Ricky Subagja adalah hasil dari kegemilangannya yang tidak hanya terjadi ketika masih aktif di dalam lapangan, tetapi juga di luar lapangan bulu tangkis.