MARLINA SI PEMBUNUH DALAM EMPAT BABAK: FILM INDONESIA 2017 YANG TIDAK BOLEH DILEWATKAN

Kenapa film ini masuk dalam wajib ditonton tahun ini, karena bisa jadi ini adalah termasuk salah satu karya anak bangsa terbaik yang lahir di tahun 2017. Tidak hanya di dalam negeri saja, film ini juga berjaya di kancah Internasional dengan menyabet banyak penghargaan. Marlina tokoh utama diperankan Marsha Timothy dengan epiknya mengalahkan Nicole Kidman dalam ajang Sitges International Fantastic Film Festival 2017 sebagai aktris terbaik.

Sebagaimana lazimnya film, alur yang biasa dipakai adalah pengenalan karakter, menuju konflik dan diakhiri penyelesain. Namun film ini menggunakan alur yang tidak bisa dengan “Empat Babak”nya ini. Sejak awal film diputar kita tidak akan dikasih tahu siapa itu Marlina, latar belakang masalahnya bagaimana dan banyak hal lain sebagaimana film kebanyakan. Dari awal kita disuguhi konflik tentang sebuah perampukan dan pembunuhan yang dilakukan oleh Marlina. Jadi, jika kita tidak benar-benar fokus dalam mencermati alur ceritanya, dipastikan keluar bioskop akan terus bertanya-tanya.

Selain cerita yang cukup menggemaskan, tentu gemas disini dalam arti luas. Panorama Sumba menjadi daya tarik tersendiri bagi penonton. Hamparan yang luas, hijau dan pantai yang indah, Keindahan ini cukup mengimbangi dengan kisah cerita Marlina yang sangat tidak bisa ini. Dalam film ini menawakan panorama yang ciamik, keaktoran yang epik dan juga musik latar yang rasanya begitu menyatu menjadi satu saling menguatkan dan mengisi  tiap sisi film ini.

Dan jangan harap film ini akan cerewet penuh dialog yang tidak penting. Sebagaimana alur yang membutuhkan kita cermat di setiap adegannya, dialog para pemeran juga tidak terkesan berlebihan. Kuat dan sangat tepat untuk memperjelas alur cerita saja. Hal ini justru membuat film ini menjadi menarik. Karena banyak sekali penggambilan gambar dan tokoh yang hanya berupa “tanda”. Sebagai penonton kita akan dipaksa untuk berfikir ini siapa? Ini kenapa? Kok tiba-tiba bisa begitu? Dan semua pertanyaan sedari awal menonton dengan cermat akan mendapatkan jawabannya sendiri.

Secara garis besar, film ini mencoba menangkap apa yang sebenarnya begitu kuat melekat dalam kehidupan masyarakat kita. Yaitu budaya pariarkis yang memposisikan perempuan selalu nomor dua dalam tatanan sosial dan juga sikap misoginis. Terutama sikap misoginis tidak hanya dilakukan oleh laki-laki, namun juga semakin banyak permepuan yang merendahkan sesama perempuan. Dan film ini mencoba untuk mengkritisi hal itu. Meskipun dalam film ini hampir semua tokoh laki-laki memiliki sifat brengsek dan tokoh perempuan yang membuat para laki-laki ini bertekuk lulut karena menyalahi kuasanya.

Semoga ulasan sederhana ini bisa membangkitkan rasa penasaran dan mampu membuat keputusan segera berangakt ke bioskop untuk menonton film ini. Saat ini sedang tayang-tayangnya, dan apa salahnya mendukung karya anak bangsa dengan cara mengapresiasi sebaik-baiknya.