Inilho Kisah Misteri Gunung Gede Pangrango Yang Dialami Para Pendaki

Gunung Gede ini berada di jawa barat, tepatnya di komplek TNGGP (Taman Nasional Gunung Gede Pangrango) yang merupakan salah satu Taman Nasional tertua di Indonesia, dimana sudah ada sejak tahun 1980.

Wilayah Taman Nasional ini memiliki luas kurang lebih 22.000 hektare termasuk dua puncak gunung yaitu Gunung Gede dan Pangrango yang tercatat sebagai salah satu puncak gunung tertinggi yang ada di jawa barat.

Selain sebagai gunung tertinggi di jawa barat, gunung Gede Pangrango menyimpan beragam kisah misteri. Misteri mengenai gunung ini bukanlah isapan jempol belaka, karena sudah banyak pendaki yang merasakan sendiri ketika mereka mendaki gunung Gede Pangrango ini.

Nah, berikut ada beberapa 4 Kisah Misteri Gunung Gede Pangrango Yang Dialami Para Pendaki yang dikutip dari berbagai sumber:

 

1. Hentakan Kaki Misterius

Kisah yang pertama ini dikutip dari “iamberserker15.blogspot.co.id“ Tulisan yang di posting pada tanggal 23 April 2014 ini menceritakan pendakiannya yang dia lakukan pada tahun 2013 silam. mari kita simak.

Singkat cerita, saya naik ke Gunung Gede bersama 10 teman kampus pada sabtu pagi 23 novermber 2013 melalui green ranger. Alhamdulillah pendakian lancar sampai kandang batu, cuma terjadi cidera ringan dan salah satu teman saya mengalami keram pada pahanya yang memang pemula dalam pendakian.

Lalu disuruh para senior untuk stretching lagi. Setelah melewati pos panyancangan, sontak seluruh semua orang pada ketawa melihat teman saya yang satu ini lagi senam pemanasan.

Setelah penuh perjuangan akhirnya tepat jam 11 siang sampai di kandang batu. Kita mendiri tenda disini, karena ada 2 orang teman saya cidera. Akhirnya ke esokan hari, semua teman saya bersiap untuk naik ke puncak gede.

submit ke puncak kira-kira jam 10 pagi dari kandang batu sampai puncak jam 12 siang. Setelah itu, Kami turun lagi jam 2 siang dan kembali ke kandang batu jam 4 sore. Setelah selesai makan dan packing kami yang berjumlah 10 orang memutuskan untuk turun dari kandang batu selepas adzan maghrib.

Dari sinilah kejadian mistis mulai terasa. Setelah melewati pos air panas, rombongan terpecah jadi dua . 5 orang di depan jalan duluan dan 5 orang lagi termasuk saya di belakang dan salah satu senior memback up salah satu teman saya yang fisiknya sudah mulai kelelahan.

Istirahat pun jarang di lakukan oleh senior, padahal teman saya yang di back up tadi sudah terlihat Letih. Karena di posisi paling belakang punya alasan tersendiri tidak memberikan porsi lebih untuk istirahat.

Karena senior ingin buang air besar, akhirnya perjalanan turun pun berhenti sebentar. Tapi waktu senior ingin BAB disemak-semak dia melihat makhluk aneh bermata satu merah menyala terang yang membuat dia tidak jadi BAB.

Akhirnya kita pun melanjutkan perjalanan turun, dan atas perintah senior yang menyuruh kita untuk istirahat di pos 1 saja. Sampai di pos satu, saya dan lainnya duduk saling berhadapan di batu-batu bahu jalan pos 1.

Tidak lama setelah kita duduk, lewat musang putih di hadapan kami semua. Mungkin itu perintah untuk kami untuk tidak lama-lama istirahat di pos 1 ini. Setelah kejadian itu, kami langsung bergegas melanjutkan perjalanan.

Nah, kali ini yang mengalami saya sendiri yang merasa seperti diikuti penunggu di situ, waktu sampai di track telaga warna yang jalannya agak landai bergelombang. Disini saya merasa ditengah-tengah yang artinya masih ada 2 orang lagi dibelakang saya. Jadi terakhir saya lihat itu, si senior yang masih dibelakang sebelah kanan saya dan satu teman saya di sebelah kiri saya.

Di jalan bergelombang itu, saya mendengar jelas sekali suara hentak tapakan sepatu di sebelah kanan belakang saya. Saya mengira itu adalah ulah senior saya makanya saya tidak hiraukan.

Sekitar kurang lebih 100 meter berjalan dengan suara tapak sepatu itu, saya mencoba menyapa senior kita “Bang semangat banget jalannya” Tapi yang jawab malah teman saya sebelah kiri saya “Woi bang senior sudah di depan tuh, cuma saya yang ada di belakang” Dan tiba-tiba suara telapak sepatu itu hilang.

Lalu saya bicara lagi ke teman saya “Tadi kamu tidak dengar suara tapakan sepatu”, Teman saya pun menjawab “TIDAK”. Lalu suara apa tadi?. Saya dan teman saya tadi pun langsung berjalan dengan cepat untuk menyusul rombongan kelompok di depan.

Dan akhirnya pada jam 9 kelompok kami sampai di pos ranger cibodas dan bertemu teman saya lainnya berjalan duluan. Setelah melepas lelah di sana, kami mampir ke sebuah warung. Dan di situlah banyak yang diceritakan kejadian mistis selama turun.

Salah satunya adalah teman saya memang bisa melihat makhluk astral. dia sebenar termasuk pendaki pemula, tapi hebatnya dia turunnya ngetrack yang berada di depan dan bukan dari kelompok saya yang di belakang.

Dan ternyata, sepanjang perjalanan teman saya yang bisa melihat makhluk astral tadi, melihat sesosok manusia berkepala monyet di sebelah kanan jalan diantara pohon-pohon gelap dengan menggunakan headlamp.

Dan dia juga melihat sosok arwah pendaki di jalan dekat dengan pos 1. Arwah pendaki ini masih berpakaian dengan lengkap, menggendong Keril dan memakai topi berwarna hitam yang dipakai para pendaki. Menurut teman saya tadi, arwah pendaki tersebut lagi memantau teman-teman saya berempat yang turun bersama dia.

Kemudian salah satu teman di rombongan saya pun bercerita, waktu di pos 1 selang beberapa detik musang putih lewat, dia mendengar suara golok sedang di asah. Dan anehnya hanya dia yang mendengar diantara kami berlima.

Nah, itulah kejadian mistis selama turun saya dan teman saya alami. Saran dari saya untuk kalian semua, jangan deh turun gunung.

 

2. Jin di Kandang Batu

Kalau yang ini dikutip dari sebuah Fans page Facebook dengan nama “Cerita Horor“ yang diposting tanggal 10 februari 2012, berikut ceritanya:

Waktu itu tahun 2001, kami masih kuliah di Jogja, kegiatan MAPALA kami berencana naik gunung gede pangrango di Jawa Barat. sorenya saat di lereng gunung turun hujan gerimis yang membuat kami menggigil kedinginan dan terpaksa menginap di pos Kandang Batu. Pendaki biasanya menginap di pos Kandang Badak.

Situasi pos Kandang Batu seperti namanya banyak batu yang besar, walaupun ada juga batu kecil serta ada tanah lapang kecil yang di kelilingi pohon cemara dan disitu ada pondok kecil tempat pendaki duduk berteduh dari kayu setinggi setengah meter.

Saat malam, aku bersama seorang teman merasakan ada yang tidak beres dengan tempat itu. Kami berdua merasa ada bayangan yang melintas di belakang pondok dan ada yang mengawasi kita dari dalam hutan.

Kami berdua pun ribut masalah itu yang pada akhirnya kami ditegur keras sama senior karena dianggap menakut-nakuti tim cewek. Akhirnya diputuskan tim cowok di pondok dan tim cewek tidur di depan pondok dengan mengunakan tenda.

Salah satu teman kami Herman yang memang dikenal punya indera keenam di tugaskan untuk menjaga tim cewek dari luar tenda. Dia duduk bersila membelakangi kami yang asyik ngobrol. Tidak lama kami mendengar si Herman ngaji dan kami anggap itu biasa karena memang cuma herman diantara kami yang taat ibadah.

Dikegelapan malam kadang-kadang aku sorot dengan senter yang melihat herman masih di posisi duduk bersila dan masih mengaji. Dan aku masih ingat herman berhenti ngaji dan tidak terdengar suara-suara lagi kecuali suara pohon-pohon ditiup angin.

Tapi aku heran setiap aku sorot dengan senter ke arah herman posisi duduknya masih sama membelakangi kami dan tidak bergerak sedikitpun. Karena merasa heran aku bersama senior mendatangi herman dan memanggil namanya.

Setelah kami sentuh tiba-tiba herman jatuh (rebah) masih dalam posisi duduk bersila (beku).Waktu itulah Suasana menjadi kacau karena kami kira herman mati hipotermia dan kami berinisiatif mengangkat herman kedalam pondok.

Beberapa lama kemudian tiba-tiba herman menyeringai dan berkata “KALIAN JANGAN MACAM-MACAM, DISINI TEMPATKU” setelah itu dia pingsan. Teman-teman yang lain langsung berdoa dan membaca ayat-ayat lainnya.

jam 22.30 malam, tidak ada suara jangkrik seperti biasanya, tidak ada suara pohon ditiup angin, tidak ada pendaki lain yang lewat (padahal selama perjalanan naik kami sering papasan dengan banyak pendaki lainnya), hawanya agak aneh dan tidak ada suara selain suara air netes dari atap pondok, kami seperti dikurung dan dikucilkan dari dunia luar.

Selain cahaya senter dan lilin di pondok diluar sana cuma gelap, herman sadar tapi matanya nanar melihat kami sekeliling sambil menyeringai aneh. Setelah beberapa lama herman sadar, aku lihat jam lagi yaitu jam 00.30 tengah malam, ada suara jangkrik, ada suara pohon ditiup angin, normal lagi seperti biasa, terus ada pendaki lain lewat dan bilang “Hai” padahal kami baru saja mengalami kejadian menakutkan.

Sampai kami melanjutkan pendakian herman tidak mau bercerita. Baru setelah turun gunung baru ia cerita semenjak dari air terjun panas kami sudah di ikuti oleh jin tinggi besar hitam. Saat kami memasak dan makan malam katanya jin itu berdiri didekat tungku di pinggir hutan.

Dan saat herman sendirian menjaga tenda cewek dan mengaji baru mahluk itu mendatangi herman. (ingat waktu herman tiba-tiba berhenti mengaji malam itu) dan membawanya ke kraton gaib yang besar.

Jin itu kata herman mau minta tumbal salah satu dari kami tapi herman menolaknya dan terjadilah perkelahian antara jin dan herman. Ditengah-tengah perkelahian itulah, tiba-tiba ada sosok yang mengaku pangeran surya kencana membantu herman.

Sebelum naik gunung kami semua tidak tahu siapa itu pangeran surya kencana itu. kata anak-anak montana yang biasa turun naik gunung gede pangrango, pangeran surya kencana yang menolong herman adalah penjaga atau penunggu gunung itu dan cuma kami yang berani menginap di pos kandang batu (berani karena tidak tahu) itulah kisah mistis yang saya alami.

 

3. Pasar Hantu di Sekeliling Tenda

Kalau kisah mistis yang ketiga ini dialami oleh kaskuser dengan akun “gedebongpisang” yang disampaikan lewat “Thread“ nya, begini kisahnya:

kira kira tahun 2011 saya terakhir kesana. Seperti biasa saya melewati jalur gunung putri bersama 7 orang teman termasuk satu orang cewek. dibawah gunung putri kira kira jam 8. makan dulu disana terus shalat dan persiapan pendakian.

Sekitar jam 9 atau jam 10 saya agak lupa, kita mulai pendakian. Setelah cek di pos pemekriksaan dengan susah payah karena waktu itu habis hujan sampai kita di pos pertama pendakian yang ada bangunan seperti bekas toilet.

Akhirnya kita berencana bermalam disitu besok siang baru melanjutkan pendaki lagi untuk ke surya kencana. Nah disinilah saya mulai merasakan keanehan.

Habis makan terus main api unggun, waktu saya merasa teman saya yang lagi ngobrol bersama suaranya jauh seperti beberapa kilometer dari saya. padahal jelas jelas mereka di depan saya.

Saya pikir mungkin saya kecapekan atau lagi mengantuk, makanya saya tidak menghiraukannya. Tapi lama-lama saya merasa aneh ditambah lagi, saya lupa dengan apa yang mereka bicarakan padahal belum ada 5 detik mereka bicara.

Akhirnya saya memutuskan untuk masuk tenda dan bilang ke teman lainnya kalau saya lagi tidak enak badan. Waktu saya mau masuk tenda tiba-tiba pandangan saya berubah hitam semua selama beberapa detik, dan anehnya lagi aneh tiba-tiba sudah di dalam tenda.

Karena mengalami keanehan ini, sayapun jadi panik. Karena melihat saya panik teman saya semua mengerubungin saya, mereka pikir saya kedinginan disebabkan baju basah padahal seingat saya baju saya kering karena baru ganti baju.

mungkin teman saya bermaksud menenangkan hati saya dengan bilang “kamu mungkin kedinginan” walaupun sebenarnya saya dalam keadaan tidak kedinginan sama sekali. tapi badan saya bergeter dari kaki sampai pelan pelan menjalar ke badan hingga kepala.

Tiba-tiba saya mulai merasakan panas di punggung saya, terus saya dipeluk sama teman saya di dalam sleeping bag. Saya pikir mungkin saya mulai mengalami proses kesurupan makanya saya baca doa saja waktu itu.

Nah, diantara sadar dan tidak sadar itulah saya mendengar suara orang main gitar sambil tertawa di belakang saya. padahal waktu siangnya saya lihat disitu adalah jurang, terus saya juga mendengar dengan jelas disekeliling tenda banyak suara langkah kaki dan ramai seperti pasar.

Saya memcoba memejamkan mata dan tidur, akhirnya saya ketiduran dan paginya saya tidak kenapa-napa. Perjalanan pendakian hingga pulang saya selamat dan tidak ada yang aneh lagi.

 

4. Ketemu Kuntilanak

Kisah ini merupakan yang paling menarik karena ada foto penampakannya juga. Kisah yang kutip dari komentar di salah satu “Thread“ di kaskus dengan akun “screamingfans” ini merupakan perjalanan pertamanya di gunung Gede. Berikut kisahnya:

Ini pengalaman pertama kali saya naik Gunung Gede, saya naik bersama kakak saya, dua teman dan tiga teman kakak saya. Berhubung dari jakarta dan pendakian dimulai hari jumat jadi sampai di cibodas itu sekitar jam 11 malam.

tadinya mau di tunggu setelah adzan subuh baru mulai pendakian tapi berhubung sudah pada tidak sabar ingin naik gunung, akhirnya jam 12 kita mulai pendakian. start jam 12 dari pos TNGP. setelah beberapa lama akhirnya sampai juga di pos air terjun, salah satu teman abang saya mengambil persediaan air minum di air terjun tersebut, kabut di sekitar air terjun itu sangat tebal seperti asap foging.

Setelah berapa saat istirahat di sana, kita melanjutkan pendakian, tapi baru beberapa langkah kita sudah di cegat sama gerombolan babi hutan. Saran saya kalau lewat di telaga biru jangan malam-malam, karena hawanya dingin.

Akhirnya setelah matahari muncul, kami segera cari tempat yang bagus buat membuat tenda, tempatnya itu di kandang batu tapi lebih maju lagi dekat air terjun yang ada di hutan. tempatnya enak terus datar bisa membuat satu tenda gede dan dua tenda kecil.

Malamnya kita lagi-lagi disambangi oleh babi hutan, entah kenapa dalam sehari sudah dua kali bertemu dengan rombongan babi hutan.

Di beberapa pos awal turun kita tidak ada masalah,cuma saat sampai mau air terjun pada mengeluh semua. percaya tidak percaya (kalau saya percaya karena sudah merasakan) kalau di gunung kita mengeluh saat perjalanan maka perjalanan kita akan di buat lebih panjang dan sulit dari sebelumnya.

Akhirnya perjalan turun kita di buat berputar-putar. saya ingat betul ada jalan yang sudah diputar sampai 3 kali, cuma saya diam saja. Tapi sama kakak saya diberi semangat, nah tepat di jalan yang sudah dilewati sebelum semua melihat hewan putih bersinar.

Ada yang bilang mirip kelinci, malah ada yang mau menangkapnya (entah karena kecapekan sampai pikiranya seperti itu) kata kakak saya biarkan saja. Akhirnya kita melanjutkan lagi perjalanan, nah disinilah saya melihatnya.

Saya jalan menunduk agar tidak terasa capeknya, terus iseng saya lihat ke depan, awalnya saya kira itu sebuah tanda agar orang tidak kesasar tapi saya bingung inikan masih dibawah dan papan penunjuknya masih jelas kenapa harus diberi tanda?.

Saya kira itu awalnya tanda untuk anak sekolahan karena memang sempat berpapasan dengan rombongan anak sekolah. Tapi waktu saya makin mendekat saya sangat kaget. Itu Kuntilanak sedang melayang hingga melewati saya.

Saya kira setelah lewat itu sudah., ternyata masih mengikuti diatas posisi saya tepat ditas saya. Tas saya jadi tanbah berat, padahal isinya cuma kaos, sisa beras tidak sampai 1kg dan panci tapi rasanya seperti membawa dua tabung gas elpiji yang besar.

Karena saya tidak bisa lari karena tas yang saya bawa berat, jadi saya diam dan tidak bilang ke lainnya tentang kuntilanak tersebut.

Waktu medekati mau sampai pos yang terdekat telaga tiba tiba makhluk itu berhenti, saya pikir batas wilayahnya cuma disana. Sampai pos itu saya langsung berlari sampai pos TNGP dan beristirahat di dalam pos tersebut sampai subuh.