BAND INDIE BUBAR YANG PATUT DISAYANGKAN

Perjalanan sebuah band bukanlah sesuatu yang gampang untuk dilewati, berbagai macam alasan penyebab dari tutup usianya sebuah band menjadi cerita klasik yang sangat wajar. Tentu saja patut disayangkan, karena tak sedikit beberapa diantaranya  yang memiliki cita rasa musik yang keren dan berkualitas. Problematika yang terjadi antara tiap personil juga selalu menjadi alasan kuat dari bubarnya band tersebut. Walaupun demikian, karya-karya mereka selalu tetap hidup dan membekas oleh para pendengar dan penikmat musik ditanah air. Berikut 3 diantara sekian banyak band bagus yang harus bubar dan patut disayangkan.

  1. ((AUMAN)) (2010–2015)

((auman)) Band Heavy Metal (stoner) asal Kota Palembang, Sumatra Selatan, “Rian Pelor” adalah vokalis sekaligus pendiri dari band ini pada pertengahan tahun 2010. Sayangnya, mereka hanya dapat meliar selama 5 tahun dalam perjalanan karirnya. Berdiri lewat bendera Rimau Music (record label), ((auman)) pada tahun 2012 meluncurkan sebuah album “Suar Marabahaya”. Berita tentang bubarnya ((auman)) telah disepakati tiap personilnya yang disebabkan oleh faktor internal, karenakan adanya pergeseran dari arah, tujuan dan prioritas dari kolaboratornya. Kini, hanya ”Suar Marabahaya” sajalah yang meninggalkan kenangan.

  1. Ghaust (2005-2016)

Ghaust band cadas yang mengusung musik post-metal, banyak berunsur atmospheric metal dan post-rock dengan ketukan progress berbau experimental hardcore dalam tiap liuk musiknya. Band yang datang dari kegelapan Kota Jakarta ini, juga harus menutup perjalanan karir mereka. Ghaust berpersonilkan 2 orang “Uri Putra” dan “Margino Edward (Edo)” benar-benar musisi yang banyak menginspirasi teman-teman pecinta music cadas bahwa ngeband berdua tak jadi masalah. Gahust sendiri cukup banyak menelurkan karya Ghaust s/t (2008), Vestiges/Ghaust LP (2011), Ghaust/Blckwvs EP (2010), Ghaust/Pazahora (2010), Ghaust vs Iblis Kotor (2010), Ghaust/Aseethe (2011), Ghaust/Kelelawar Malam (2011), Untitled (2014), dan Burning All The Gold (2016). Namun kini mereka terpaksa membubarkan diri pasca meninggal sang drummernya, Edo. Namun musikalitas Ghaust tetap dikenang hingga saat ini.

  1. Banda Neira (2012-2016)

Duo Folk asal Kota Bandung ini juga sempat menghebohkan skena musik indie Indonesia karena lantunan yang mendayu-dayu oleh vokal Rara Sekar dan petikan gitar akustik yang hangat dari Ananda Badudu, Banda Neira. Dua album penuh yang menarik juga menghiasi perjalanan karir mereka I (2013) dan Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti (2016). Aransemen sederhana dari Banda Neira yang selalu memberi kerinduan kepada para penikmat musiknya. Karena kini kita telah kehilangan grup musik yang memiliki musik serta lirik yang sama-sama indah. Sayangnya band ini juga harus bubar.