Wayang Golek: Khazanah Yang Mulai Dilupakan

Salah satu warisan kebudayaan sunda yang sangat bagus adalah Wayang Golek. Yaitu pertunjukan wayang trimarta atau berbentuk tiga dimensi ini sangatlah mudah ditemui di wialayh Jawa Barat. Sebuah kearifan dan budaya lokal yang sangat dipertahankan masyarakat Jawa Barat. Wayang golek merupakan sebuah tokoh pewayangan yang pembuatannya dari boneka kayu yang diwarnai sedemikian rupa. Pementasan wayang golek bisanya digunakan sebagai media cerita rakyat, edukasi ataupun sarana dakwah melalui kisah-kisah sejarah Jawa, kebudayaan Islam sampai mahabarata. Karena itu, wayang golek memiliki posisi yang penting dalam menjaga nilai-nilai sejarah dan budaya bangsa kita.

Pementasan yang terdiri dari sepereangkat wayang golek, dalang dan juga nayaga. Nayaga adalah grup atau orang yang mengiringi pementasan wayang golek dengan memainkan gamelan, kendang, rebab dan juru kawih serta juru alok. Kesenian wayang ini lebih dominan sebagai seni pertunjukan rakyat yang mempunyai makna baik secara spiritual ataupun material bagi masyarakat Jawa Barat khususnya. Dan juga menjadi hiburan rakyat di seluruh Jawa Barat dari Banten hingga Cirebon dan beberapa daerah di perbatasan antara Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Lahirnya wayang golek tentu tidak bisa dipisahkan dengan keberadaan wayang kulit. Sejarah menyebutkan berkenaan penyebaran wayang di Jawa Barat pada masa kerajaan Demak di bawah pemerintahan Raden Patah. Kemudian disebarluaskan dan digunakan sebagai media dakwah dan penyebaran Islam oleh Walisongo. Termasuk Sunan Gunung Jati pada tahun 1568 di kasultanan Cirebon memanfaatkan pagelaran wayang sebagai sarana mengenalkan Islam ke masyarakat Jawa Barat kala itu. Dan menurut cerita lainnya, Sunan Kudus juga menggunakan Wayang golek dalam hal yang sama namun dialognya berbahasa Jawa. Baru pada masa ekspansi kerajaan mataram pada abad ke-17 mulai nama-nama tokohnya diambil dari sunda.

Menurut Dr. Th. Pigeaud dalam penelitiannya menyebutkan bupati Sumedang juga menginisiasi perubahan dari wayang kulit menjadi wayang golek dengan lakon Ramayana dan Mahabarata. Dan seiring berjalannya waktu, kesenian wayang golek tersebar dan dikenal di seluruh wilayah Jawa Barat. Awalnya pementasannya sangat sederahana, namun masuk abad 20 pementasannya semakin lengkap dan semakin menarik. Mulai dari bentuk wayang golek purwa sunda, grup pengiring musik, dalang dan juga sekarang dihadirkan pesinden untuk semakin memeriahkan pertunjukan. Yang awalnya hanya diselenggarakan oleh kaum bangsawan, sekarang sudah menjadi tontonan favoritĀ  semua elemen masyarakat luas terutama di Jawa Barat.

Kini dalam perkembangan wayang golek, tidak hanya sebagai seni pertunjukan wayang melainkan juga difungsikan sebagai cinderamata para wisatawan yang berkunjung ke Jawa Barat. Tokoh-tokoh populer seperti Rama, Sinta, Arjuna, Srikandi serta tokoh punawakan seperti Semar, Gareng dan Baging bisa dibawa pulang sebagai hiasan atau pajangan di rumah. Dan salah satu tokoh yang sangat terkenal dalam wayang golek adalah Cepot, hasil kreatifitas dalang Asep Sunandar yang juga cukup sering tampil di televisi nasional.

Demi mengikuti perkembangan zaman dan agar wayang golek diterima oleh masyarakat saat ini, seniman-seniman Jawa Barat mulai berkreasi dengan memadupadankan pementasan wayang golek dengan diiringi musik modern. Selain itu juga agar tak tergerus zaman, pemerintah Jawa Barat juga berupaya mempertahankan kesenian wayang golek. Hal ini kiranya yang patut dicontoh daerah lain dalam upaya menjaga kearifan dan kebudayaan lokal yang penuh makna.