Mimi Rasinah Maestro Asal Indramayu

mimi-rasinah

Adalah Rasinah, seseorang yang hingga akhir hayatnya mendedikasikan hidup pada Tari Topeng. Lahir dari pasangan dalang di Indramayu, darah seni memang sudah mengalir di nadinya. Ia mulai berkenalan dengan tari topeng sejak kecil melalui sang bapak, saat umur lima tahun. Menginjak usia tujuh tahun, ia bersama bapaknya mulai keliling kampung untuk bebarangan atau mengamen tari topeng.

Perjalanannya sebagai penari topeng keliling penuh dengan cerita. Mulai dari tuduhan mata-mata serta tuduhan membangkitkan syahwat, yang berujung pada meninggalnya sang bapak karena ditembak oleh Belanda. Kendala itu semestinya tak menghentikan langkahnya untuk tetap mementaskan tari topeng dari panggung ke panggung, desa ke desa. Namun, seiring dengan besarnya badai gestapu dan bergesernya selera masyarakat pada seni yang lain seperti panggung dangdut dan sandiwara, pada tahun 1970-an kelompok tari Rasinah memutuskan berhenti berkiprah dan menjual seluruh topeng-topengnya.

Kehidupan selanjutnya adalah penderitaan. Sebagaimana dikisahkan oleh Rhoda Grauer, Rasinah bersama keluarganya hidup dalam kemiskinan, rumah yang hampir runtuh, kelaparan, dan tiada harapan akan masa depan.  Namun kecintaannya pada menari terlalu besar. Dalam segala keterbatasan, ia ajarkan keahlian tersebut pada cucu-cucunya, yang kelak mewarisi seluruhnya.

Hingga suatu ketika, terjadi suatu peristiwa yang menjadi titik balik kehidupan sang maestro dan tari topengnya. pada pertengahan tahun 1990-an, berkunjunglah dua orang dosen STSI Bandung bernama  Endo Suanda dan Toto Amsar Suanda yang pernah mendengar suatu kesenian tari di Indramayu yang hampir punah. Tak mudah membawa kembali seseorang yang telah lama meninggalkan panggung tari ditambah dengan faktor usia dan keterbatasan fisik. Rhoda Grauer menceritakan bahwa awalnyan Rasinah sempat takut akan kedatangan keduanya. Suatu percakapan terjadi antara mereka ketika pembahasan perihal upah. Rasinah menawarkan, “150.000 rupiah! Kamu setuju atau tidak?”, dan merekapun sepakat.

Merasakan panggung pentas seperti menemukan kembali semangat hidup Rasinah dibalik kerentaan tubuhnya. Tak seperti dulu yang hanya keliling kampung dan desa, Rasinah dan tari topengnya berkelana antar kota, bahkan antar negara seperti Jepang, Paris, dan Italia. Berbagai penghargaan diterimanya, mulai dari tingkat kabupaten, provinsi, nasional, hingga internasional.

Dalam kesaksian Supali Kasim, seorang budayawan Indramayu, tertulis demikian :

Ketika gamelan topeng berkumandang yang ditabuh para nayaga Mama Taham, ia seakan-akan menemukan kembali dunianya yang hilang. Sebuah dunia tempatnya mengekspresikan karakter manusia lewat tari Panji, Pamindo, Tumenggung, ataupun Kelana. Ketika menari Kelana, kerentaan usia 65 tahun tidak ada. Kakinya lincah mengentak-entak, berderap, menyepak-nyepak, ataupun berjalan dengan pongahnya. Nuansa kemarahan menyebar di sekelilingnya, tinggi hati, berkuasa, dan egois dengan kegarangan kumis hitam tebal, mata melotot, dan wajah merah. Ekspresi tubuh, tangan, kaki, kepala, hati, dan jiwa menyatu dalam karakteristik angkara murka. Namun, adegan yang penuh ruh dan energi itu justru menjadi kontras saat tarian usai dan kedok penari dibuka. 

Rasinah tahu, menari bukan perkara meliukkan tubuh belaka. Ia adalah lakon spiritual. Baginya, seni pertunjukan tari topeng lebih dari sekedar hiburan. Ia berhubungan erat dengan kehidupan, agama, adat gaib, pemberian sesaji, peran nenek moyang, wali dan penyebaran agama islam di bumi Indramayu. Maka untuk seluruh anak didiknya sebagaimana yang ia kerjakan dulu, ia ajarkan ritus-ritus atau sesuatu yang berkaitan dengan pengembaraan sukma dan pembentukan raga. Tradisi ritual tersebut meliputi puasa 40 hari agar penari menjadi kuat dan tampil karismatik, puasa mutih (berpuasa dengan hanya makan nasi putih atau segelas air), ngetan (berpuasa, saat berbuka hanya makan nasi ketan), ataupun puasa wali (tidak makan dan tidak minum selama tiga hari atau tujuh hari, dan seterusnya).

Mimi Rasinah menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 7 Agustus 2010. Sesuai ucapannya yang melegenda, “Saya akan berhenti menari kalau sudah mati”, ia benar-benar menari hingga akhir hayatnya. Tarian terakhirnya adalah ketika ia pentas di Bentara Budaya Jakarta dalam acara pentas seni dan pameran bertajuk ‘Indramayu dari Dekat’. Rasinah, sang maestro tari topeng meninggalkan sanggar tari dan aktivitas di dalamnya, bersama dengan kebesaran namanya. Kisah dan perjelanan hidupnya didokumentasikan dalam sebuah film dokumenter berdurasi 54 menit dengan judul Rasinah: The Enchanted Mask oleh Rhoda Grauer.

Sumber :

Rasinah: The Enchanted Mask, oleh Rhoda Grauer. Rumah sinema 2004