Baduy: Kebudayaan Luhur Yang Harus Dijaga

Indonesia adalah gudangnya ragam budaya yang sangat dan juga suku bangsa yang sangat beragam dan khas. Hal ini dikarenakan nenek moyang kita berasal dari beberapa suku yang berbeda pula. Salah satunya yang keberadaannya sampai hingga sekarang dan kebudayaan serta laku hidupnya masih dijalankan adalah suku baduy. Suku ini masih sangat menjaga segala sesuatunya mulai dari gaya hidup, caranya berpakaian, pola hidup dan bagaimana menjaga tradisi-tradis leluhunya. Perkampungan ini berada di dareah aliran sungai ciujung, di kaki pegunungan Kendeng, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Lebak-Banten. Lokasi ini dikenal masyarakat sekitar sebagai wilayah yang dititipkan oleh nenek moyang tidak boleh dirusak.

 

Sebutan Baduy sendiri justru diberikan oleh masyarakat di luar mereka yang bermuara dari para peneliti Belanda. Para peneliti Belanda kala itu cenderung agak menyamakan mereka dengan kelompok Arab Badawi yang tempat tinggalnya berpindah-pindah (nomaden). Kemungkinan lain nama itu didapat karena adanya sungai dan gunung yang bernama Baduy di wilayah utara Lebak. Namun orang-orang Baduy lebih suka menamai dirinya sebagai urang Kanekes, atau orang Kanekes yang sesuai dengan wilayah mereka tinggal, yaitu di desa Kanekes.

 

Orang Baduy juga diidentikkan dengan suku Sunda, hal itu dikarenakan sebagian besar unsur kebudayaan dan bahasanya sama dengan suku Sunda. Dalam masyarakat Baduy sendiri terbagi dua kelompok. Yiatu kelompok Baduy dalam atau biasa disebut Urang Kejeroan, dan kelompok Baduy luar yang dikenal juga Urang Kaluaran atau Urang Panamping. Baduy dalam mendiami wilayah tanah adat yang dikenal sebagai taneuh larangan (tanah larangan), yaiut di kampung Cikeusik, Cikartawana dan Cibeo. Baduy luar mendiami perkampungan-perkampungan sekitar di lura tanah larangan seperti Cibengkung, Kaduketug dan Curugseor. Bentuk perkampungan Baduy dianggap sebagai represntasi perkampungan Sunda zaman dahulu yang memanjang di kedua sisi lapangan dan di kedua ujung terletak dua bangunan penting yaitu bale besar yang berfungsi sebagai penerima tamu dan rumah Sang Pu’un, sebutan lain untuk pemimpin spiritual Suku Baduy.

 

Bahasa yang digunakan Baduy adalah Sunda dengan dialek Rangkas-Banten untuk dilingkungannya. Namun ketika berinteraksi dengan selain suku Baduy, mereka mengerti bahasa Indonesia dengan cukup lancar. Meskipun masyarakat Baduy dikenal menolak pendidikan formal yang diagendakan pemerintah. Hal itu juga budaya menulis tidak kuat dan menyebabkan adat istiadat, kepercayaan/agama dan cerita nenek moyang mereka hanya tersimpan dalam secara cerita lisan.

 

Sedangkan kepercayaan suku Baduy dikenal dengan sebutan sunda wiwitan. Yaitu ajaran leluhur turun temurun yang berdasarkan penghormatan kepada karuhun atau arwah leluhur dan pemujaan kepada roh yang memiliki kekuatan alam (animisme). Hal itu ditunjukkan dengan adanya “pikukuh” (kepatuhan) atau adat mutlak yang dianut mereka dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu makna terpenting dalam “pikukuh” tersebut adalah konsep “tanpa ada perubahan apapun”: Lojor heunteu beunang dipotong, pèndèk heunteu beunang disambung. (Panjang tidak bisa/tidak boleh dipotong, pendek tidak bisa/tidak boleh disambung)

 

Keyakinan tersebut direfleksikan langsung dalam kehidupan mereka. Semisal dalam bertani, jika berdasarkan “pikukuh” mereka, berarti tidak boleh mengubah kontur lahan, sehingga cara bertani mereka pun sangat sederhan. Mereka tidak menggunakan bajak, tidak memakai sistem terasering. Mereka menamam menggunaka tugal, yaitu sepotong bambu yang diruncingkan. Pun dalam membangun rumah, kontur tanah dibiarkan saja, tidak diratakan atau apa, sehingga tiang penyangga rumah mereka seringkali tidak sama panjang. Begitu juga dalam perkataan dan tindakan, mereka lebih jujur, polos, tanpa basa-basi dan dalam berdagang tidak melakukan tawar menawar. Namun seiring berkembang zaman, terutama dalam hal kepercayaan, sudah cukup banyak masyarakat Baduy mengenal dan memeluk Islam salah satunya.

 

Dalam model kemasyarakatan, suku baduy baik secara adat dan spiritial dipimpin oleh seorang pu’un. Dalam menjalankan masyarakat, pu’un dibantu oleh beberapa orang pilihan yang disebut seurat. Pembantu pu’un dalam hal keamanan kampung, mengurus pernikahan dan kematian disebut girang seurat atau jaro tangtu. Sedangkan yang bertugas menyampaikan segala informasi dari pu’un disebut baresa, yang juga dikenal sebagai dewan pertimbangan atau penasehat pu’un. Dan yang membantu dalam pengobatan dan ritual magis lainnya adalah tangkesan. Seorang pu’un bisa digantikan jika sudah meninggal dunia atau sudah tidak bisa menjalankan tugas karena lanjut usia, sakit dan sebagainya. Namun penerus pu’un bukanlah dipilh secara sembarangan. Haruslah orang Baduy dalam yang masih keturunan pu’un, sudah berkeluarga dan memiliki dukungan secara spiritual yang diramalkan oleh tangkesan.

 

Sampai sekarang pun keberadaan mereka masih ada. Jika penasaran dan ingin belajar banyak tentang kehidupan dengan gaya lain, bisa kiranya berkunjung kesini.